Pages

Thursday, May 9, 2013

Kuantitas atau kualitas Waktu yang diperlukan Anak ?

Selamat siang bunda,

Di era sekarang ini, banyak ayah bunda yang sama -sama bekerja di luar rumah, sehingga ananda lebih banyak menjalani kesehariannya bersama nanny, baby sitter atau orang dewasa lain. Lalu bagaimana peran kita sebagai ourang tua dalam menyikapi hal ini? apakah kita harus menyediakan kuantitas waktu yang banyak ataukah agak sedikit  waktu namun berkualitas ? . Menghadapi hal ini tentu saja yang lebih baik adalah waktu  yang banyak dan berkualitas, namun hal ini bagi orang tua yang keduanya bekerja sangatlah susah mengingat banyak kesibukan dan tuntutan pekerjaan yang memaksa kita harus pergi meninggalkan anak di rumah.

Menurut saya, janganlah kita perdebatkan masalah di atas, tetapi alangkah baik kita mensiasati hal ini dengan bijaksana. Perlu kita sadari bahwa dalam praktek pengasuhan anak,  jumlah waktu interaksi orang tua dengan anak tidaklah mutlak menentukan terjadinya kedekatan anak dengan orang tua. Ada hal lain yang justru lebih menentukan kedekatan anak dengan orang tua yaitu adanya keterlibatan orang tua dan anak pada saat berinteraksi.

Pola interaksi  yang melibatkan orang tua dan anak, tentu saja memerlukan kesiapan dari orang tua. Kesiapan di sini maksudnya baik kesiapan fisik maupun mental. Kesiapan fisik orang tua adalah adalah hadir secara nyata di hadapan anak , seperti : orang tua duduk berdampingan, ada di hadapan anak, dll. Selain itu adanya  kesiapan mental orang tua.Kesiapan mental orang tua adalah orang tua melepaskan semua pikiran , perhatian  dan perasaan lain. Di sini orang tua harus menfokuskan semua pikiran, perhatian, dan perasaan terhadap anak yang dihadapannya dan sedang berinteraksi dengannya, dengan demikian orang tua akan memusatkan fisik dan mentalnya terhadap kebutuhan anak pada saat interaksi berlangsung. Anak peka dan bisa menangkap apabila kita ada di hadapan mereka tetapi pikiran kita ada di tempat lain, misal: saat interaksi dengan anak, kita menerima telepon orang  lain, diajak bicara anak tidak mendengar atau tidak memperhatikan, asyik bermain atau chatting di hand phone, melamun sendiri dll.  Yang perlu kita sadari adalah mereaka mengerti dan memperoleh kesimpulan bahwa orang tuanya tidak tulus dan tidak fokus sepenuh hati menemani dan berinteraksi dengannya . Akibatnya  mereka akan kecewa dan merasa tidak diperhatikan dan tidak diperlukan oleh orang tuanya. Nantinya akan menimbulkan perasaan tidak berarti, rendah diri, cuek, dll. Oleh sebab itu berlatihlah untuk fokus terhadap anak apabila kita berinteraksi dengan anak.

Belajarlah hadir nyata baik fisik dan mental.

Semoga bermanfaat, hal ini juga tidak hanya mengingatkan bunda tetapi juga mengingatkan saya secara pribadi, karena kita sama-sama  belajar menjadi orang tua yang baik dan bijaksana. Aamiin.

Salam hangat abadi

Wednesday, May 8, 2013

Bermain untuk Anak Usia 1,5 - 2 tahun

Semangat pagi bunda,

Perkembangan motorik, kognitif dan sosial anak semakin berkembang dari periode-ke periode lainnnya. hal ini juga nampak pada anak yang berusia 1,5-2 tahun. Pada tahap perkembangan ini akan nampak perubahan baik dari segi kognitif, sosial, motorik kasar maupun motorik halusnya, seperti anak sudah mulai mampu berfokus pada penyelesaian masalah dari tahap sebelumnya yang masih trial  and error. Kemampuan lain juga nampak berubah, dimana sebelumnya anak hanya berlatih mengisi dan  mengosongkan sekarang sudah mulai menanjak pada tahap kemampuan memasukkan benda pada lobang dengan bentuk yang sama  . Kemampuan menghubungkan satu benda dengan benda lainnya juga sudah mulai timbul. Hal ini juga diimbangi dengan peningkatan motorik kasarnya seperti: melempar bola, anak mulai lari, melompat dan jungkir balik. Selain itu beberapa perkembangan motorik halus juga mulai nampak seperti: anak mulai mengupas pisang dengan hasil kurang  sempurna, menggambar, menjahit sederhana, ataupun permainan membangun lainnya.

Melihat hal di atas, tampak perkembangan anak sudah demikian lajunya. Hal ini pasti membawa konsekuensi untuk para bunda, bahwa bunda harus lebih menyiapkan diri dalam banyak hal baik dari sisi atensi, variasi jenis permainan in door maupun outdoorn dll;  sehingga dapat mengoptimalkan kemampuan kognitif, sosial, motorik kasar, maupun motorik halusnya.

Bunda terkasih, beberapa dukungan kita untuk jenis permainan anak pada tahap ini misalnya.

1. Bermain Mampu Sendiri.

Pada tahap ini , anak sudah mampu melakukan sendiri beberapa kegiatan, seperti memakai kaos kaki dan sepatu sendiri, atau yang lainnya seperti mengupas pisang, dll; walaupun hasilnya belum sempurna. dalam hal ini peran bunda adalah memberikan kepercayaan kepada anak, memotivasi dan memberikan respon positif. Hal yang harus dihindari oleh bunda adalah menyalahkan atau langsung membetulkan misal: " Melati ini kurang sempurna, yang betul seperti ini". Apabila ini dilakukan bunda , maka anak akan demotivasi dan tidak mau mengulangnya lagi karena takut salah, dan dampaknya nanti adalah anak menjadi tidak percaya diri.

2. Melukis atau Menggambar.

Hal yang perlu disiapkan bunda adalah; cat untuk melukis (bisa dibeli di toko mainan anak khusus cat yang aman untuk anak-anak, ataupun dibuat sendiri, misal : campuran tepung terigu, air dan pewarna). media untuk melukis dan tentu saja alat lukisnya (bisa kuas, dan anggota badan kita, atau kapas, potongan pelepah pisang atau yang lainnya). Di sini anak diajak untuk melihat perlengkapan permaian. Lihatlah respon anak, bila anak sudah mulai memegang salah satu alat , berilah motivasi: " Naufal, ibu lihat kamu sudah memegang kuas, sekarang Naufal  oleskan di papan  ini ya," dsb. Bunda juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba dengan cara lain, misal dengan potongan pelepah pisang. atau dengan jari dan telapak tangan atau bahkan dengan kakinya. Anak akan senang dengan eksperimennya. Apabila anak meminta bunda untuk ikut berperan serta, jangan ragu-ragu bunda juga melakukan. dan bermain bersama , namun yang perlu dijaga adalah bunda jangan mendominasi permainan.

3. Bermain pasir.

Ajaklah putra-putri anda menikmati pasir , bisa di pantai, di bak pasir besar, atau kolam pasir dll.
Pertama yang anda lakukaan adalah mengenalkan dan merasakan pasir. Misal: Zidan, mama lihat kamu memegang pasir di tanganmu, apa yang kamu rasakan " dsb, kemudia ditingkatkan dengan menginjak pasar dll. Kemudian tingkatkan menjadi mengambil pasir dengan sekop dan mencetaknya menjadi beberpa permainan atau bisa juga dengan mengambil pasir dimasukkan ke dalam permaianan kincir pasir, dll.

4. Bermain di Alam Bebas.

Ajaklah ananda ke alam bebas, ajaklah mereka untuk berlari bersama , kejar-kejaran dengan ayah bunda, bermain lompat  - lari , dll. Selain melatih motorik kasar, juga menimbulkan rasa kebersamaan, yang dapat menimbulkan kehangatan keluarga.

5. Bermain Air.

Ajaklah anak anda bermain air, siapkan beberapa alat yang bisa mengapung dan tenggelam di air. Kemudian biarkan anak memilih mainan mana yang akan dimasukkan ke air. Amati respon anak, dan ajaklah diskusi , misal dengan: " lihatlah daun mengapun di air, kita amati yuk bagaimana daun tetap berada di atas air. Zia, lihatlah, bagaimana dengan batu, ternyata batu tenggelam didalam air." berilah pengertian seperti ini, kemudian tingkatkan permainan dengan mengajak anak menebak benda yang akan dimasukkan ke air, nantinya mengapung atau tenggelam, Berilah motivasi anak untuk melihat hasil kebenaran hasil terkaannya. Berilah motivasi dan respon positif.


Beberapa permainan di atas hanyalah sekedar contoh, tentu saja bunda dapat menambah variasinya.

Selamat mencoba.

Salam hangat abadi


Saturday, May 4, 2013

Bermain untuk Anak Usia 1 - 1,5 tahun

Selamat pagi bunda......

Kupasan artikel pagi ini tentu saja, masih menlanjutkan kupasan sebelumnya mengenai kegiatan bermain dengan buah hati kita. Masa usia 1 - 1,5 tahun , anak sudah semakin meningkat kemampuan kognitifnya sehingga mereka mampu memperhatikan sebab akibat dari sesuatu yang dialaminya. Mereka juga sudah mamapu mencari cara baru untuk mencapai tujuan, misalnya jika mereka melihat suatu benda, mereka sudah bisa mendekati  dan mengambilnya. Kemampuan lain yang tampak adalah mereka sudah mampu mengenali nama benda dan mengklasifikasikan sesuai nama benda, juga dalam mengeksplorasi mereka sudah tidak memasukkan benda ke mulut. Hal lain yang sangat menonjol adalah anak pada usia ini mulai meniru kegiatan orang tua dan mampu menghubungkan benda dengan kegiatan , seperti makan dengan piring dan sendok, menggambar dengan spidol dll.

Melihat perkembangan di atas menuntut bunda untuk lebih aktif dalam memberikan permainan terhadap anak karena harus merangsang kemampuan mereka .

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan bunda adalah

1. Bermain Air

a,Bunda menyiapkan ember yang sudah berisi air, agar menarik berilah pewarna (hari ini menggunakan pewarna merah , hari lain warna yang lain) . pemberian warna ini seklaigus untuk mengenalkan nama warna kepada anak. Siapkan juga botol plastik (bisa dilakukan dengan bekas botol air mineral, dsb) dan gayung atau benda bekas yang dapat untuk menyendok air. Di sini anak diajak bermain mengisi botol dengan air , kemudian menuangkannya dan mengisinya lagi. Permainan ni bisa dilakukan hanya bunda dengan anak bunda saja, atau juga bisa mengajak anak lain dengan tujuan untuk membantu anak kita berlatih sosialisasi. Dalam proses bermain jangan lupa mengamati respon anak dan memotivasi anak untuk bermain.

b,  Cara lain adalah bermain dengan meniru apa yang dialami anak, misal bermain memandikan boneka. Ajaklah anak untuk bermain ini, misal: " Rauf, bagaimana kalau kita mandikan boneka kita"  dan ajaklah anak kita melihat peralatan yang sudah kita siapkan, amati respon anak, berilah dorongan bila anak tampak acuh saja, misalnya: " Lihat , boneka kita sudah siap mandi". kemudian bunda perlu untuk memberi contoh menggunakan peralatan yang sudah kita siapkan sehingga anak akan tertarik dan mencoba melakukan , berilah motivasi. Pada waktu bunda mendemobstrasikan proses memandikan anak , jangan lupa bunda sambil mengucapkan apa langkah untuk memandikan dengan menarik. Amati respon anak. Dalam permainan ini jangan lupa pastikan keamanan dan kenyamanan anak .  Permainan ini bisa dilakukan bunda dengan putranya saja atau juga bisa dilakukan dengan mangajak anak lain.

2. Bermain dengan benda.

a. Klasifikasi benda
Bunda mneyiapkan aneka permainan seperti beberapa binatang, beberapa mobil-mobilan serta 2 kotak mainan yang berbeda warna atau berbeda bentuk. Ajaklah anak memahami konsep boneka binatang, dan kelompok mobil-mobilan. kemudian kita mengajak anak menaruh boneka binatang di kotak satu dan mobil-mobilan di kotak yang lain. amati respon. Berilah motivasi dan penghargaan kepada anak.

b. Cari dimana bendaku.

Bunda perlu menyiapkan 2 kotak kosong dengan tutup, dan 1 mainan kesuakaan anak. Bunda menaruh mainan di dalam kotak dan kotaknya ditutup. Mulailah dengan yang mudah dulu yaitu dengan 1 kotak saja kemudian baru nantinya meningkat mainan ditaruh di dalam kotak satu dan yang lain kosong dan anak diminta mencari dimana mainannya.

a. Langkah awal adalah  kita ajak anak untuk bermain bersama, misalnya dengan: " Salsa, bunda punya sebuah permainan, mau ikut bermain" Kemudian jelaskan tata cara permainan yaitu mencari menemukan mainannya. Misal dengan ucapan: " Bunda akan menyembunyikan mainan ini di dalam salah satu kotak , dan Salsa coba temukan mainannya". Mulailah bermain, dan jangan lupa saat anak sibuk mencari dimana mainannya, berilah semangat, misal dengan perkataan" Salsa pintar, ayo teruskan mencarinya, coba buka tutup kotaknya, dan lihat ke dalamnya". kalau anak menemukan, berilah pujian" Ya, Salsa telah berhasil menemukan mainan di dalam kotak". Lakukanlah ini berulang2.

b. Aapabila anak sudah menguasai dengan satu kotak, cobalah variasi dan teruskan permainan ke tingkat yang lebih sulit, yaitu dengan menaruh satu mainan di kotak yang satu dan kotak yang lain kosong. dan hal ini bisa ditingkatkan lagi dengan memindahkan letak kotak-kotaknya. Terus amati respon anak dan berilah motivasi dan penghargaan terhadap anak.

3. Bermain Memasak - Belanja- atau yang lain

Di sini lakukanlah permaian meniru aktivitas bunda, misal pura-pua bermain pergi belanja ke pasar, atau bermain pura-pura memasak.

Bunda terkasih, di atas adalah beberapa alternatif permainan. Tentu saja bunda bisa mencari dan melakukan permainan anak asalkan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya.

Selamat bermain dengan buah hati anda....

Salam hangat abadi








Pola Makan Anak

Semangat pagi....bunda...

Sudahkah berolahraga pagi ini?
Alhamdulillah pagi ini cerah sekali, sehingga para bunda dapat melakukan aktivitas bersama keluarga.

Bunda terkasih,

Pola makan bagi anak sangat berpengaruh terhadap asupan gizi anak, dimana kita ketahui bersama bahwa hal ini sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, kognitif, emosi mauoun sosial anak kita. Pola makan anak sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, pola makan orang tua, pengaruh lingkungan sekolah, maupun aneka pengaruh dari luar misalnya : televisi, dunia maya, maupun pengaruh dari iklan-iklan makanan cepat saji, makanan ringan ,dll yang sekarang sangat membombardir kehidupan anak. Mengantisipasi hal ini tentu saja bunda harus pandai menyiasati supaya dapat mengatur pola makan anak, agar kebiasaan anak menjadi lebih baik.

Cara yang dapat bunda lakukan adalah

1. Berilah kebebasan anak untuk menentukan apa yang ingin dimakannya dan berapa banyak jumlahnya. Namun bunda juga jangan segan-segan untuk menawarkan jenis makanan baru , walaupun pada awalnya anak akan menolaknya.

2. Menu yang ditawarkan kepada anak sebelum anak memilih adalah menu yang lebih banyak terdiri dari makanan yang dimasak dengan rendah lemak, dan  lebih banyak dipanggang dan direbus dibandingkan makanan yang dimasak dengan digoreng.

3. Buatlah makanan dengan sedikit garam, dan jauhkanlah garam dari meja makan .

4. Ajak dan libatkan anak dalam proses menyiapkan menu, mengolah masakan maupun dalam proses menghidangkan makanan . Hal ini akan menambah antusias anak dalam menyantap makanan, karena ia merasa terlibat dalam prosesnya.

5. Siapkanlah makanan camilan buah-buahan atau sayur. Dalam hal ini bunda harus pandai mengatur menunya, bisa saja bunda siapkan salad buah, selada bangkok, buah segar potong, juice buah atau campuran buah dan sayur, dll.

6. Jangan terlalu ketat dalam membatasi makanan. Sesekali bolehlah anak menikmati makanan dari restoran cepat saji, atau yang manis - manis seperti permen. karena kalau tidak boleh sama sekali anak juga akan merasa dikekang dan bahkan akan menyebabkan anak penasaran dan mencoba tanpa persetujuan bunda. Untuk pembuatan jadual kapan boleh makan masakan cepat saji dan permen, tentukanlah bersama dengan anak, dengan bentuk diskusi tentang manfaat dan kejelekan dari makanan tersebut .

7. Membiasakan dan memastikan anak anda sarapan. Sarapan pagi memberikan energi yang cukup untuk belajar dan berkosentrasi di sekolah.

Demikian bunda beberapa tips yang coba saya sharingkan, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya.

Selamat mencoba.

Salam hangat abadi.



Sulitkah Makanan Bergizi bagi Anak?

Agar anak mau  makan, seringkali bunda memasakkan makanan favorit anak. Namun hal ini bukanlah solusi yang baik , bahkan sebaliknya dapat membuat anak menjadi semakin susah diatur pola makannya, sehingga membuat para bunda lebih susah mengatur gizi makanan untuk putra-putrinya.

Setiap anak membutuhkan asupan gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik , psikologis, ssosialnya. Menjadi masalah jika anak hanya mau makanan yang disukainya, dan akan semakin runyam apabila makanan favoritnya mie instant, ayam goreng atau jajanan goreng yang kurang sehat.  Oleh karena itu, para bunda harus  peka terhadap pola konsumsi anak, karena dapat mempengaruhi kurangnya asupan gizi yang diperoleh anaknya.

Pola makan anak , sangat dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua. Apabila orang tua menyukai makanan yang yang rendah lemak , gula dan serat tinggi, maka anakpun akan belajar dan menyukai hal yang sama. Selain lingkungan rumah, lingkungan sekolah juga mempengaruhi pola konsumsi makanan anak, karena pada usia sekolah , anak akan memilih makanan yang ada di kantin sekolah secara mandiri, dan hal ini tentu saja dipengaruhi oleh lingkungan yang ada di sekolah.

Pada periode 1-12 tahun, merupakan usia pertumbuhan dan perkembangan fisik dan  kognitif meliputi memori, pemikiran kritis, kreativitas dan bahasa. Pada usia ini gizi anak harus terpenuhi agar perkembangan kognitif tidak terganggu. Oleh sebab itu, bunda perlu memperhatikan kebutuhan yang kadang kala terlewat yaitu kebutuhan zat besi karena zat besi dapat menimbulkan anemia yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Selain juga kebutuhan akan mineral dan vitamin, protein.

Selain hal-hal di atas, anak-anak juga harus dibiasakan sarapan pagi, karena sarapan pagi memberikan bahan bakar bagi anak yang memerlukan energi untuk beraktivitas serta berpikir sampai dengan tengah hari. Anak dengan pola makan seimbang, akan lebih baik menyelesaikan tugas  sekolah. Seporsi bubur ayam, atau dua butir telur atau satu gelas susu serta buah dapat memberi bekal energi yang memadai, Jangan beri sarapan pagi terlalu manis, karena akan membuat anak cepat lapar. Segelas susu dengan buah lebih baik daripada biskuit yang cenderung manis.


Semoga bermanfaat,  selamat malam...

Salam hangat abadi

Bermain untuk anak usia 8-12 bulan

Sahabat bunda,.......

Berbincang mengenai kegiatan bermain bagi anak adalah sesuatu yang mengasyikkan karena kita bisa melakukan eksplorasi terhadap kemampuan anak , dan tentu saja ada kepuasan tersendiri bagi kita para bunda, apabila kita bisa melakukan pendampingan dan pengamatan.

Bunda yang terkasih, dengan permainan kita bisa memberikan pijakan yang benar sehingga  memberikan pengalaman yang menyenangkan dan pemahaman yang benar dan lengkap bagi anak kita, sehingga kemampuan intelektualnyapun makin meningkat.

Kali ini saya akan melanjutkan mengenai permainan untuk anak usia 8-12 bulan. Pada periode ini kemampuan tampak kian berkembang. Mereka melakukan eksplorasi selain dengan mata, telinga, tangan, sekarang mereka mulai menggunakan mulutnya. Tampak apapun dimasukkan ke mulutnya. Sikap ini dikarenakan pada periode ini apabila anak ingin mengetahui segala sesuatu maka benda tsb dimasukkan ke  mulut.
Jangan heran, apabila kita mendapatkan anak yang sedang merangkak dan ketemu sesuatu, langsung diambil dan dimasukkan ke  mulut. Melihat hal ini sebaiknya bunda jangan kaget dan panik.

Selain kemampuan di atas , anak pada periode usia ini , mereka juga sudah mampu menghubungkan dua benda atau 2 kegiatan, misal mereka memahami bahwa ada sendok ada garpu, karena pengalamannya kalau makan ketemunya sendok dan garpu. Hal lain misalnya, mereka mampu menghubungkan 2 kegiatan misal: benda dipukul menimbulkan bunyi, atau sesuatu ditekan akan bunyi. maka dia akan menekan semua benda yang ditemui, karena dia sedang mengeksplorasi dan biasanyan merekan akan terus mengulanginya, sampai mereka mendapatkan pemahaman.

Hal lain yang tampak adalah mereka mulai takut terhadap seseorang yang belum dikenalnya. ini disebabkan karena mereka sudah mengetahui orang dekat, maka jika mereka menemukan ada orang lain maka dia tahu itu adalah orang lain. Hal ini karena mereka sudah mampu menghubungkan situasi.

Melihat hal di atas, maka kemampuan yang dapat kita berikan adalah

1. Permainan 2 kegiatan yang saling mempengaruhi misal Tekan - Bunyi atau Remas- Bunyi, atau Pukul - Bunyi.

Dalam hal ini, kita sebagai bunda haruslah menyiapkan berbagai mainan yang bisa dipencet/ ditekan/ diremas/ atau dipukul dan menyebabkan bunyi. Berbagai mainan ini kita hamparan di dekat anak. (yang perlu diingat mainan harus terbuat dari bahan dan cat yang aman untuk digigit, lebih besar ukurannya daripada mulut anak, dll\). Apabila anak belum tertarik, maka bunda dapat mengucapkan: "Lintang, lihat ada apa ya di dekat kakimu?" Angkat salah satu mainan yang ada di dekat kaki, sambil mengamati respon anak. Apakah anak melihat gerakan bunda? apakah anak melihat mainan yang ada di dekat kaki? apakah anak mengikuti gerakan bunda mengambil mainan? dll. Jika anak mengambil mainan dan   menekan/meremas/ memencet/ memukul mainan dan menimbulkan bunyi, maka bunda seyogyanya memberikan atensi, motivasi dan pujian: " Lintang sayang , ayo pegang mainannya, remas kuat......woooow ada bunyinya, bagus sekali". Dan bunda juga mengikuti gerakan anak. Lakukan permainan ini berulang-ulang, dan amati responnya, karena dia akan memdapatkan pemahaman .
Mainan jenis ini misalnya:
Yang dipukul bisa bunyi misalnya: drum, gendang, kardus, kaleng biskuit, toples plastik, piano kecil, dll.
Yang diremas/ dipencet /dipencet bunyi, contohnya: bebek / kotak/ dadu plastik yang bisa bunyi, mobil /boneka dari kain flanel yang bisa bunyi,dll.

2. Bemain Air.

Anak usia ini senang sekali menepuk-nepuk air. Oleh karena itu daripada kita larang, lebih baik kita sengaja saja bermain air bersama-sama. Permainan ini bisa dilakukan sebelum anak mandi sore . bunda dapat menyiapkan ember yang sudah diisi air hangat. kemudian kita ajak anak untuk merasakan hangatnya air, di sini kita rangsang alat indera perabanya, misal: " Mawar ini air hangat, mau coba sentuh airnya". Setelah itu, kita ajak anak untuk bermain menepuk air misal: " Mawar , mau coba main tepuk air seperti bunda". Anak akan senang sekali menepuk air hingga menimbulkan cipratan, bahkan terkadang  anak ingin masuk di ember, melihat hal ini anak lebih baik diperbolehkan masuk kedalam ember  , dan dapat bunda tanyakan  bagaimana perasaannya dan apa yang dirasakan. Hanya saja yang perlu diingat bunda harus memastikan keamanannya, jagan sampai terguling atau terpeleset.

Permaianan di atas hanyalah contoh, bunda dapat memberikan banyak hal asalkan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Untuk alat permainannyapun dapat diperoleh  dari toko mainan maupun dari peralatan yang ada di rumah.

Selamat mencoba, dan selamat bereksperimen.

salam hangat abadi.







Wednesday, May 1, 2013

Bermain efektif untuk anak usia di bawah 3 tahun

Hai apa kabar bunda.

Bermain adalah situasi yang menyenangkan bagi anak-anak sekaligus dapat mengoptimalkan kemampuan kecerdasan anak. Bagaimana caranya agar bermain menjadi efektif,  tentu saja, adalah dengan pendampingan orang tua . Mengapa ? karena dengan pendampingan orang tua kulitas bermain menjadi lebih meningkat sekaligus  kualitas belajar anakpun menjadi lebih meningkat.

Apa saja yang harus diperhatikan pada saat anak bermain:

1. Keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain maupun keamanan dari alat main .
2. Permainan dilakukan mulai dari kemampuan yang paling awal (dasar) kemudian  beranjak yang lebih sulit.
3. Melakukan berbagai permainan untuk merangsang semua panca inderanya.
4. Latihlah anak untuk fokus , dan anak memperoleh waktu yang cukup untuk menikmati permainannya.
5.Anak diberikan pemahaman dari suatu permainan, misal : "adik , lihat bola biru ini"
6. Memberikan respon yang positif.
7. Permainan untuk motorik halus dan kasar harus berimbang, begitu juga untuk mengajak anak bermain di luar ruangan maupun dalam ruangan harus berimbang.
8.Menata dan meletakkan alat maupun perlengkapan mainan sesuai dengan karakter, bahan, warna , bentuk, dan  ukurannya. Dengan demikian akan mudah mencarinya dan anak juga belajar tentang pemahaman akan klasifikasi benda .

Baiklah bunda, saya mohon pamit dulu.
Mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya.

Salam hangat abadi