Pages

Wednesday, May 15, 2013

Melatih anak bawah 1 tahun Tidak Mengompol

Bunda terkasih....

Pada awal masa kehidupan anak , mereka belum dapat melakukan komunikasi dengan kita apa yang mereka lakukan dan mereka inginkan termasuk ketika mereka ingin buang air kecil maupun melakukan kontrol terhadap buang air kecilnya. Banyak ynag dilakukan oleh para bunda dalam menyikapi hal ini adalah dengan menggunakan pampers. Memang hal ini akan praktis dan tidak merepotkan, akan tetapi ada beberapa kelemahan adalah kita tidak tahu jadual dan ritme kapan anak bunag air kecil.

Banyak bunda yang mencoba menyiasati dengan mengkombinasikan penggunaan pampers dengan tanpa menggunakan pampers. yaitu pada waktu di rumah baik siang atau malam hari tidak menggunakan pampers dan sewaktu diajak bepergian menggunakan pampers. Lalu timbul pertanyaan apakah ini tidak merepotkan karena akan mengganggu tidur para bunda?

Saya akan mencoba sharing pengalaman saya sewaktu melatih kedua anak saya , sehingga mereka tidak mengompol. Langkah-langkah adalah sebagai  berikut:

1. Mengatur jam minum terakhir bayi. yang saya lakukan adalah mengatur pemberian minum bayi  dan melakukan jadwal kapan terakhir bayi kita minum terakhir. Bayi terakhir saya berikan ASI adalah beberapa saat sebelum tidur yaitu antara jam 8- 9 malam, setelah itu saya biasakan anak ,saya berikan air putih kemudian saya ajak ke kamar mandi untuk bersih -bersih cuci kaki, cuci tangan ,  kemudian saya lepas celananya dan saya coba pipiskan dengan menyalakan kran air dan mengajaknya komunikasi dengan suara lembut dengan kata-kata misalnya: " Rizal sayang, kita pipis dulu sebelum bobok". Di awal -awal latihan seringkali tidak berhasil tetapi di saat - saat kemudian latihan ini berhasil membuat anak bisa buang air kecil sebelum tidur.
2.Lakukan pengamatan kapan anak buang air kecil. Disini saya lakukan pencatatan jam berapa saja anak buang air kecil. Pencatatan ini saya lakukan selama beberapa hari. Dari sini saya mendapatkan jadual jam berapa bayi saya buang air kecil.

3. Dari data tersebut, saya mendapatkan hasil, bayi akan buang air kecil adalah sekitar jam 3 pagi, maka yang saya lakukan adalah mengajaknya buang air kecil sebelum jam 3 pagi, dimana asumsi saya adalah kantung air seni sudah penuh. Bayi saya usap lembut dengan perkatan: " Rizal, ayo kita kamar madi dulu ya". kemudian setelah di kamar mandi saya lepas celana dan saya membuka kran air. Pada watu anak mendengar gemericik air, ia langsung dapat buang air seni.

4. Setelah buang air kecil saya lap dan saya pakaikan celana, sambil saya berkata:"Rizal anak pintar, Alhamdulillah sudah tidak ngompol lagi, Rizal anak bunda yang hebat".

Bunda terkasih,
Demikian tadi pengalaman saya dalam melatih anak usia di bawah 1 tahun untuk tidak mengompol lagi.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Salam hangat abadi.....


Tuesday, May 14, 2013

Anak Telanjur Merokok

Para bunda terkasih.....

Banyak fenomena yang kita lihat akhir-akhir ini, dimana ditemukan kasus-kasus perokok pemula. Hal ini dapat terjadi karena contoh dari keluarga (misal : ayah/bunda/kakak/orang dewasa lain adalah perokok), gencarnya iklan , dan faktor coba-coba. Perokok pemula ini nantinya akan cenderung menjadi perokok aktif setelah usia dewasa. Kadang kala dengan menyandang predikat perokok aktif, di dalam diri mereka muncul peraasaan bangga, karena mereka diterima oleh lingkungannya dan dianggap dewasa karena berani menpunyai kebiasaan menyulut rokok.

Bagaimana cara kita sebagai orang tua apabila melihat atau memergoki anak kita merokok.

1. Bersikap tenang , dan menguasai diri terlebih dahulu sebelum membuka pembicaraan dengan anak.

2. Instropeksi diri, apakah ayah bunda merokok? kalau ya, berusahalah untuk menghentikan kebiasaan menyulut rokok. Jika orang tua sedang berproses berhenti merokok, sebaiknya orang tua tidak menyulut rokok di depan anak.

3. Cari waktu yang tepat untuk berbicara santai ,serius tapi dalam kondisi nyaman bagi anak, kalau bisa empat mata . Mulailah dengan pertanyaan terbuka tentang sebab, seberapa sering dan dengan siapa merokok. Tanyakan juga apa yang dia rasakan saat merokok. Dalam hal ini sebaiknya orang tua tidak menggunakan kalimat pertanyaan dengan "Mengapa", karena anak akan merasa dihakimi.

4. Pastikan diri anda fokus dan menyimak penjelasan anak, Ajaklah diskusi dengan santai tapi serius bahwa kegiatan mencoba-coba merokok dapat menimbulkan kecanduan di kemudian hari.  Dalam hal ini, orangtua harus menjaga agar nada bicara tetap tenang dan menggunakan pilihan kata yang tetap nyaman bagi anak..

5. Ajaklah melakukan analisa akibat merokok bagi kesehatan, bagi keuangan. Di sini orang tua bisa menggunakan alat bantu buku, video, dll.

6. Apabila kebiasaan merokok anak disebabkan faktor teman sebaya, dimana biasanya teman sebaya menekan anak dengan perkataan kalau tidak merokok bukan lelaki sejati. Maka langkah yang kita ambil adalah mendiskusikan langkah-langkah yang harus dilakukan agar anak mampu menangani tekanan dari teman sebaya. Selain itu bangun kepercayaan diri anak, karena dengan kepercayaan diri ini akan menjadi tameng anak dari desakan teman sebayanya.  Selain itu berikan pemahaman  tidak merokok jauh lebih baik bagi kesehatan maupun faktor finansial (misal : "coba kita hitung, kita bisa membeli sepeda motor untuk Reza ke sekolah dengan cara  berhenti merokok ".

Bagaimana kalau dengan cara-cara di atas anak tetap tidak mau berhenti merokok.

1. Ajaklah diskusi tentang dampak positif dan negatif langsung merokok, misal dampak negatifnya adalah dengan merokok uang saku akan berkurang, mulut akan berbau tidak sedap, nafasnya menjadi pendek, gigi kuning, baju beraroma tidak sedap, dll. Dampak positifnya adalah dengan berhenti merokok anak akan bebas dari ketergantungan, penampilannya makin keren karena gigi tidak kuning, bau mulut sedap, dll.

2. Buatlah aturan merokok . Pastikan anak tidak leluasa merokok di dalam rumah.

3. Bantulah anak untuk menyusun rencana berhenti merokok. Bila diperlukan bisa berkunjung ke tenaga ahli.

Bunda yang terkasih , demikian ulasan malam ini semoga bermanfaat.

Salam hangat abadi.


Monday, May 13, 2013

Menumbuhkan rasa percaya pada Anak

Hai bunda.....
Apa kabar?
Harapan kami semoga bunda semua dalam keadaan bahagia selalu , aamiin.

Rasa percaya merupakan pemahaman anak yang tumbuh karena adanya rasa aman . Rasa percaya adalah dorongan dalam diri anak dalam memandang lingkungan sebagai tempat dimana ia dapat membina hubngan yang hangat dan menjalankan perilaku sosial tanpa merasa cemas.

Anak akan mengembangkan rasa aman atau tidak aman tergantung dengan pola hubungan orang tua dengan anak. Rasa aman akan terbentuk apabila anak merasakan kepuasan akibat terpenuhinya segala kebutuhan fisik dan emosional oleh orang tuanya, terutama bundanya. Mengapa hal ini dapat terjadi? karena bundalah yang mengandung, melahirkan dan menyusui. Namun peran ayah juga tidak sedikit dalam proses pengasuhan anak mulai dari bayi.

Sebaliknya adalah rasa tidak aman. Rasa tidak aman timbul diakibatkan tidak terpuaskannya kebutuhan fisik dan emosional anak oleh orang tuanya. Anak yang tidak aman di awal kehidupannya akan memandang bahwa lingkungannya adalah tempat yang mengancam .

Melihat hal di atas, maka peran orang tua terutama bunda adalah menciptakan terbentuknya rasa aman melalui beberapa tahapan usia perkembangan, yaitu:

1. Menciptakan rasa aman untuk anak usia 0-18 bulan.
Pada usia ini , rasa aman akan terbentuk apabila bunda dan ayah sebagai lingkaran terkecil memperlakukan bayi kita dengan memperhatikan, mengerti  dan memenuhi kebutuhannya (misal kita mengerti arti tangis bayi kita, apakah bayi kita lapar/risih/atau takut, dll), memeluk , mengusap, mencium dam berbicara lembut, dll.

2. Usia 18-3 tahun
Rasa percaya akan membuat anak berani menjelajah lingkungan. Apabila anak mendapat respon positif, maka ia akan mendapat pemahaman dan pengalaman yang menyenangkan karena perilakunya, maka ia akan  menampilkan perilaku tersebut

3. Usia 3-5 tahun
Kemampuan anak pada periode ini semakin meningkat, baik kemampuan motorik kasar, motorik halus, kemampuan kognitif ,  kemampuan sosialnya maupun kontrol dirinya. Anak yang mendapat banyak kesempatan untuk mempraktekkan dan mendapat kepercayaan dari lingkungannya, maka ia akan berani belajar dan mencoba. Rasa percaya anak akan muncul apabila orang tua memberikan respon positif, motivasi atau pujian. Apabila anak akan mendapatkan rasa aman , maka ini akan membentuk rasa percaya diri anak.

Bunda terkasih,
Orang tua adalah role model bagi anak, oleh sebab itu perilaku kitapun menjadi contoh bagi anak. Kita jangan sampai hanya mengajarkan kejujuran, kontrol diri, berani mengakui kesalahan, dan memberikan pujian dll, apabila kita tidak melakukannya dalam keseharian kita. Hal ini bisa menghambat perilaku dan kepribadian anak, karena anak tidak memperoleh konsep rasa percaya terhadap lingkungannya.

Sebagai akhir tulisan, marilah kita melakukan refleksi dan belajar untuk memperbaiki perilaku kita apabila memang ada yang perlu kita koreksi.

Mudah-mudahan kita semua dapat berhasil menjadi orang tua menyenangkan bagi anak-anak kita.  aamiin.

Salam hangat abadi.



Sunday, May 12, 2013

Menerima Kekalahan dan Kemenangan.

Hai Bunda....

Semangat pagi,

Sering kita temui , dalam kehidupan nyata kita dihadapkan pada sebuah kompetisi. Begitu juga dengan kehidupan anak. Anak kadang kala ikut dalam kompetisi sesungguhnya misalnya  sebuah kejuaran ataupun persaingan di dalam kelas. dalam ulasan pagi in saya akan memberikan sharing mengenai kompetisi dalam sebuah lomba.
Mengapa ulasan ini kita bahas di pagi ini?
Sering sekali kita temui aneka macam lomba yang diadakan oleh berbagai lembaga, perusahaan , bahkan oleh sekolah anak maupun di lingkungan tempat tinggal kita. Menyikapi hal ini tentu saja ibu harus bijaksana, karena anak harus disiapkan terlebih dahulu mengenai mentalnya. Kalau dilihat dari beberapa teori sebenarnya lebih baik untuk proses perkembangan anak kalau perlombaan itu dilakukan mulai anak berumur 10 tahun, namun  banyak sekali perlombaan itu dilakukan mulai anak-anak balita .hal ini tidak perlu kita perdebatkan, yang penting adalah bagaimana kita menyikapi hal ini dan mempersiapkan mental mereka baik dalam menerima kemenangan ataupun kekalahan

Bunda yang terkasih,

1. Persiapan lomba

Sebelum berlangsungnya perlombaan sebaiknya, kita harus mendiskusikan mengenai arti , apa yang ingin diraih dalam perlombaan maupun apa yang harus dipersiapkan. Di sini bunda bunda dituntut untuk bijaksana dalam mendiskusikan dengan anak .
Beberapa langkah yang pernah saya lakukan terhadap anak sulung saya sewaktu pertama kali dia ikut lomba berenang, adalah menanyakan kepada anak: " Inas, mau ikut lomba berenang ya, ibu boleh tahu sayang mengapa Inas mau ikut lomba", anak saya sewaktu itu menjawab  " Mau dapat piala dan hadiah"

Langkah saya  berikutnya adalah mendiskusikan proses dan kemungkinan yang terjadi pada lomba , karena di setiap perlombaan pasti ada yang menang dan kalah. Di sini saya mencoba menjelaskan: " Kalau nanti Inas menang, alhamdulillah dapat piala dan hadiah . Kalaupun tidak, Kakak tetap anak Ibu yang masya Allah , hebat. Berani ikut lomba saja dan menyelesaikan lombanya  ibu sudah senang dan bangga ", maksud perkataan ini adalah memberi pengertian bahwa juara bukan yang utama, yang lebih penting adalah keberanian ikut lomba dan menyelesaikan tugas lomba . Dan itu semua membuat bunda bangga terhadap anak.
Ilustrasi yang saya tambahkan untuk anak lebih memahami situasi lomba adalah sebagai berikut: : "Peserta lombanya berapa?" Anak akan menjawab misal" 20 orang, bu". maka kita meneruskan :" Nah , pada saat lomba, juri mencari satu pemenang yang catatan waktunya paling sedikit. Misalnya, kakak bagus, Watik bagus, Dani dan Danti bagus, maka nanti dipilih sampai dapat yang paling bagus catatan waktunya di antara para peserta, salah satunya akan menjadi pemenang"  Anak biasanya bisa mengerti.
Dalam situasi ini tekankan pada anak bahwa bapak dan ibu bangga kakak sudah berani ikut lomba dan menyelesaikan proses lombanya.
Yang perlu dihindari adalah pemberian target baik target juara atau target jangan sampai kalah dengan anak lain, karena in akan membebani mental anak.

2. Pendampingan dalam latihan.
Ayah dan bunda mendampingi dalam latihan , berikanlah respon positif dan motivasi.

3. Mendampingi Lomba.
Pada saat lomba bersikaplah tenang dan bijak, buatlah situasi nyaman dan menyenangkan, sehingga anak akan tenang  secara  psikologis. Apabila anak sedikit stress, berilah motivasi, dan tenangkan , tetap tekankan kepada anak, bahwa yang penting anak menyelesaikan tugas lomba, jangan terpengaruh nanti bagaimana hasilnya,  dan ingatkan anak memulai lomba dengan berdoa. Ayah bunda bangga dan tetap sayang kakak , karena tidak terpengaruh menang atau kalah dalam lomba.
Pada saat anak lomba dampingi, dan peluklah anak saat anak telah menyelesaikan  lomba apapun hasilnya. Sebagai contoh perkataaan kami saat anak saya setelah menyelesaikan semua lintasan lomba berenangnya, "Alhamdulillan kakak sudah menyelesaikan semua lintasan, ayah ibu bangga terhadapmu", anak saya menjawab:" ibu, saya mencapai garis finishnya nomor urut empat", "Kakak , nomor urut empat bagi ayah ibu, adalah hebat, kakak sudah menunjukkan usaha yang gigih , kami bangga terhadapmu"
Di sini peran orang tua sangat penting, baik bagi orangtua yang anaknya  menang maupun yang kalah. Untuk yang menang peran orang tua adalah menetralkan bahwa kemenangan adalah buah dari latihan dan anugerah dari Allah dan jangan sombong. Dan bagi orang tua yang anaknya kalah , adalah tetap menghargai usaha putranya , jangan menyalahkan maupun mengkoreksi secara langsung kekalahan atau kelemahan anak , karena akan menimbulkan ketidak mampuan anak, rasa bersalah anak yang nantinya menimbulkan ketidakpercayaan diri anak.

Hal  yang perlu menjadi catatan kita, yang kadang tidak kita sadari adalah kita juga harus mempersiapkan mental untk anak yang terbiasa menjadi juara satu, karena biasanya secara mental mereka tidak siap untuk kalah atau menjadi juara dua, kadang kala mereka lebih baik mundur daripada kalah. Oleh sebab itu bagi ayah bunda  alangkah bijaksananya apabila  dapat mengajak mereka diskusi tentang arti kalah dan menang , dan ayah bunda tetap sayang dan bangga apapun hasilnya.

Semoga tulisan di atas dapat menjadi refleksi dan pengingat bagi kita semua, termasuk diri saya.

Selamat beraktivitas  .

salam hangat abadi

Mengoptimalkan Motorik Halus

Selamat sore bunda...

Proses tumbuh kembang kemampuan gerak seseorang anak disebut perkembangan motorik. Secara garis besar perkembangan motorik bisa dibagi dua yaitu perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Dalam ulasan yang lalu saya sudah membahas mengenai motorik kasar, maka kali ini saya akan mengulas mengani motorik halus.

Perkembangan motorik halus sudah diawali sejak dini, dimulai saat bayi dapat memegang dan meraba. Ketrampilan motorik halus ini sangat dipengaruhi oleh kematangan otot dan tentu saja kematangan saraf. Oleh sebab itu dapat dikatakan , setiap gerakan yang dilakukan anak , sesederhana apapun, sebenarnya merupakan hasil interaksi yang kompleks dari berbagai bagian tubuh dan sistem yang dikontrol oleh otak. Motorik halus ini nampak begitu pesat perkembangannya setelah usia 3 tahun (perlu diingat masing-masing anak tidak selalu sama laju perkembangannya). Biasanya kemampuan ini akan nampak nyata apabila anak sudah menguasai sebagian besar gerak motorik kasar. Ketrampilan motorik halus sangat dipengaruhi oleh gerak otot-otot kecil. Ketrampilan ini meliputi: mengambil benda kecil dengan ibu jari, mencoret, menggambar, mengancingkan baju, membuka gerendel pintu, menggunting, makan sendiri, memasukkan benang ke jarum, menjahit, membawa gelas berisi air  tanpa tumpah dll.

Walaupun perkembangan motorik halus berkembang sejalan dengan perkembangan saraf dan otot, namun perkembangan motorik halus ini tidak serta merta bisa terjadi begitu saja, tanpa ada proses pembelajaran dan latihan. Di sinilah peran kita sebagai bunda sangat menentukan , karena bunda dapat menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat merangsang tumbuhnya ketrampilan motorik halus ini.

Beberapa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus:

1. Kesiapan anak untuk belajar baik secara fisik dan psikologis, disini anak harus disiapkan untuk fokus. Hal yang dapat dilakukan bunda adalah sebelum berlatih dengan bermain, ajaklah anak anda untuk mengenali suatu latihan dan proses belajarnya, misal dengan kata:" Anis, bunda punya permainan di atas meja, mari kita lihat", dll. Dengan demikian anak akan tahu kalau dia akan bermain sesuatu hal, sehingga mereka akan menyiapkan fisik dan mentalnya. (buatlah belajar bagi anak adalah sebagai sebuah permainan).

2. Kesempatan berlatih.
Dalam hal ini, sangat besar peranan orang tua, karena orang tua harus menyiapkan waktu luang dan memberi kesempatan anak untuk mempunyai kebebasan. Berilah kepercayaan kepada anak.Misalnya dengan perkataan: " Anung, bunda lihat , kamu sudah memegang kuasnya dan sekarang kamu oleskan di kertasnya". Banyak anak yang tidak mendapat kesempatan ini karena orang tua terlalu protektif, sehingga kesempatan berlatih tertutup karena orang tua terlalu sayang sehingga takut anak cedera seperti tertusuk dsb, takut rumah nya kotor, dll sehingga semua keperluan anak  dilayani, dll.

3. Orang tua memberikan contoh yang baik.
Peran bunda sangatlah besar dalam memberi contoh, di sini bunda harus memberi contoh yang baik dan benar dan jangan lupa dikomunikasikan kepada anak caranya  dengan bahasa yang sederhana dan diucapkan  dengan bahasa yang benar. Misal bunda memberi contoh makan : " Dita, mari kita makan bersama" kemudian" sendoklah makanan kita dan makanannya dimasukkan ke mulut, kunyah dan telan", ulangi contoh ini berulang-ulang sehingga anak mampu memahami konsep  cara makan.

4. Respon positif dan motivasi.
Respon positi sangat berarti bagi anak, respon positif diberikan kepada anak saat dia mampu melakukan latihan dengan baik. misalnya : "Ika, sekarang kamu dapat menyetuhnya, apa rasanya".  Akan tetapi  respon positif dan motivasi juga diperlukan apabila anak belum mau  atau berhasil melakukan latihan. Beberapa contoh yang dilakukan oleh bunda adalah sebagai berikut:
a, untuk mendorong anak melakukan kegiatan, misalnya : " Bunda juga mau cuci piring, Bunda ambil piring-piring kotor lalu bunda masukkan ke dalam air sabun, digosok-gosok lalu dibilas dengan air bersih" dll.
b. Melakukan koreksi terhadap perilaku anak yang masih belum berhasil melakukan misalnya :" Ya teruskan mencari mainannya. ayo buka kotaknya dan coba temukan mainannya" dsb.

5. Setiap ketrampilan harus dipelajari dengan khusus.
Setiap kemampuan motorik halus memerlukan kemampuan koordinasi otot-otot kecil dan kematangan syaraf tersendiri., seperti memegang pensil berbeda dengan kemampuan memegang sendok atau memegang gunting. Maka bunda wajib melatih satu ketrampilan motorik halus secara khusus.

6. Cara mempelajari ketrampilan motorik halus harus satu demi satu. Di sini kesabaran kita dituntut, anak jangan sampai dibuat bingung dengan diperkenalkan beberapa ketrampilan sekaligus. Kita harus melatih ketrampilan satu demi satu, sehingga anak akan fokus dan mendapatkan pemahaman mengenai kemampuan tersebut dan mahir melakukan ketrampilan tersebut, sebelum berpindah ke ketrampilan yang lain.

Perkembangan motorik halus juga dapat digunakan sebagai salah satu deteksi taraf kecerdasan anak, khususnya di awal usia anak dan di tahun-tahun pertama, ketika anak belum bisa diajak berkomunikasi secara verbal.

Semoda dapat membantu bunda, dalam pengasuhan anak.

Semoga bermanfaat...

Salam hangat abadi


Friday, May 10, 2013

Bagaimana mengoptimalkan Motorik Kasar

Selamat pagi bunda,

Bagaimana aktivitas di akhir pekan ini ? Tentu saja para bunda mempunyai beberapa rencana yang telah disusun bersama keluarga.

Pada periode lima tahun pertama kehidupan anak , motorik kasar sangatla pesat perkembangannya sejalan dengan perkembangan motorik lainnya yang berkembang sesuai dengan pertambahan usia dan kematangan saraf serta otot-otot anak. Tampak pada anak periode lima tahun pertama ini perkembangan motorik kasar adalah sebagai berikut , anak mulai dari memiringkan badannya, tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, melompat, berenang maupun bersepeda dll. Dalam tumbuh kembang motorik kasar ini tentu saja sangatlah besar peranan bunda, karena bunda akan menentukan perangsangan dan kesempatan kepada anak, sehingga mereka mendapatkan peluang untuk berkembang sesuai dengan usia perkembangannya.

Beberapa kondisi yang dapat merangsang perkembangan motorik adalah :

1. Faktor Genetik.
Anak yang mempunyai bentuk normal dengan kemampuan intelegensia tinggi umumnya lebih pesat kemampuan motoriknya.

2. Kondisi Pra Natal
a. Janin yang aktif biasanya cenderung berkembang menjadi bayi yang aktif pula, kecuali ada situasi dan kondisi yang menghambatnya.
b. Asupan gizi yang baik pada saat ibu hamil, memungkinkan perkembangan bayi yang lebih baik.

3. Kondisi Pasca Natal
a. Kondisi kesehatan , gizi dan nutrisi di bulan - bulan awal kehidupan bayi membantu perkembangan motorik yang lebih baik.
b. Adanya rangsangan, motivasi dan respon positif dapat mengoptimalkan perkembangan motorik.

Selain hal -hal yang dapat mendukung , ada beberapa hal yang dapat menghambat, misalnya:

1. Faktor Genetik, lahir dengan kemampuan intelegensia rendah.

2. Pada saat kelahiran mengalami kesulitan , terutama apabila disertai trauma di kepala.

3 Pola Asuh Orang tua:
a. Orangtua terlalu protektif , sehingga khawatir dan tidak memberikan kesempatan anak untuk melakukan latihan - latihan motorik dengan bebas. Pengasuhan seperti ini sering tidak disadari oleh orang tua, karena mereka biasanya bermaksud agar anaknya tidak cedera, takut terjadi hal yang tidak baik terhadap anak, sehingga orang tua membatasi atau sangat menjaga anaknya.
b.Perbedaan pola asuh orang tua, karena perbedaan jenis kelamin. Sering kali pola asuh dibedakan karena jenis kelamin anaknya berbeda, misalnya untuk anak laki-laki diberi kebebasan untuk berlatih motorik kasar, misal menendang bola, lompat, dll; sedangkan pengasuhan anak perempuan berbeda karena mereka menganggap anak perempuan harus santun , sehingga anak perempuan tidak diberi kebebasan sama dengan anak laki-laki.

Bunda terkasih, semoga dapat dipetik hikmahnya.

Salam hangat abadi

Thursday, May 9, 2013

Bermain untuk Anak usia 2-3 tahun


Hai bunda.......

Apa kabar? Doa dan harapan saya bunda dalam keadaan sehat wal afiat. keluarga  dalam keadaan sehat dan senantiasa bahagia. Aamiin.

Bunda terkasih, 
Periode anak usia 2-3 tahun adalah periode yang sudah semakin  berkembang tingkat pemahaman mereka. Nampak dari kemampuan bahasa, anak periode ini sudah mampu menceritakan kembali cerita-cerita yang sudah dikenal (misal: cerita dari buku-buku yang sering dibacakan bunda kepadanya). Anak mampu untuk menghubungkan kejadian kedalam urutan peristiwa, serta anak juga sudah mampu menghubungkan jarak, kecepatan dan waktu . Dari segi motorik halus, anak pada periode ini sudah mampu melakukan kegiatan dengan satu tangan, menggambar garis lurus serta lingkaran tak beraturan, mulai mampu menggunting dengan hasil yang belum sempurna, mengancingkan baju dan ritsluiting dll. Sedangkan kemampuan motorik kasarnya nampak mereka sudah bisa melompat di tempat, berjalan mundur hingga 3 meter, menendang bola dengan mengayunkan kaki, jalan jinjit , bediri sebelah kaki, lompat dari anak tangga terakhir, mengayuh sepeda, dll. Jadi pada periode kemampuan anak semakin pesat.

Melihat perkembangan anak baik dari segi bahasa, kognitif, motorik kasar maupun motorik halus sudah semakin pesat, maka menuntut para bunda untuk dapat bertindak bijaksana dalam memberikan permainan sehingga kemampuan anak akan bisa teroptimalisasi dengan sempurna.

Beberapa contoh permainan yang dapat dilakukan  :

1. Bermain Olah Raga pagi.

Ajaklah anak ke tanah lapang, misal ke bumi perkemahan, ke kebon raya atau kelapangan rumput, dsb. Anak diajak untuk beraktivas pagi bersama ayah  bunda misal  lari pagi, kemudian olah raga yang lain yang terdiri dari senam yang disisipin gerakan jalan jinjit ,jalan mundur dan berdiri dengan satu kaki. Selan itu bisa ditingkatkan dengan  lompat tangkap bola, atau main bola dengan menendang dan mengayun kaki , belajar sepeda roda empat dll. Dalam bermain di luar ini ciptakan suasana nyaman dan penuh kegembiraan , orang tua juga terlibat dan hadir secara nyata dan mental. Sehingga anak akan merasa hangat, segar, gembira, senang dan teroptimalisasi kemampuan motoriknya.

2. Pakai baju sendiri.

Berilah kepercayaan anak untuk memakai baju dan celana  sendiri,rangsang dan motivasi  anak  untuk mengancingkan dan menarik ritsluiting. Hanya saja sebagai langkah awal hasilnya belum sempurna, lama kelamaan akan berhasil. Untuk menghadapi hal ini yang perlu dilakukan adalah memberikan motivasi dan respon positif.

3. Bermain Air.

a. Isi Air

Bunda menyiapkan air yang sudah berwarna, siapkan beberapa aneka botol bekas air mineral dalam aneka ukuran, dan gelas bekas air mineral untuk alat gayung.Di sini anak diajak bermain mengisi berbagai aneka ukuran botol . Hanya saja caranya anak diajak untuk mengisi botol yang ukuran besar terlebih dahulu baru yang lebih kecil. Misalnya dengan cara: " Risma, bunda lihat kamu sedang mengisi botl besar, sekarang coba Risma ganti mengisi botol kecil". Mengamati respon anak dan memberikan pertanyaan untuk membantu anak mengeksplorasi kemampuan berpikirnya, misalnya dengan pertanyaan: " Risma , apa yang kamu rasakan saat mengisi botol besar? dan apa yang Risma rasakan saat mengisi botol kecil? ". menunggu jawaban anak ddan memberikan respon positif. Apabila anak  belum bisa menjawab, ulangilah permainan anak sehingga anak mampu mendapat kesimpulan dan pemahaman dari permainan Isi Air.

b. Takar Air.

Peralatan yang perlu disiapkan sama dengan permainan Isi Air , hanya ditambah dengan menyediakan corong . Caranya sama dengan permainan di atas , bedanya hanya cara waktu menuang , dalam permainan Takar Air, cara mengisi botol dibantu dengan corong. Bunda membantu anak untuk memahami bahwa dengan corong proses mengisi botol lebih mudah. Cara yang dilakukan bunda adalah merangsang kecerdasan anak dengan pertanyaan , misalnya: " Risma .....masih ingat permainan kita kemarin, alat apa yang kita gunakan ? ", dilanjutkan dengan pertanyaan: " Bagaimana rasanya, kemarin sewaktu Risma memasukkan air ke botol tanpa corong?", kemudian dengan pertanyaan: " dan apa yang Risma rasakan sekarang sewaktu mengisi botol dengan menggunakan corong?". Apabila anak belum mendapatkan pemahaman , maka berilah kesempatan kepada  untuk mencoba lagi permaianan Isi Air (mengisi botol air tanpa corong) kemudian mencoba permainan Takar Air (pakai corong) dan anak membandingkannya, sehingga anak akan dapat menjawab pertanyaan bunda, karena anak sudah dapat menarik kesimpulan.

c. Ayuk bantu Bunda.

Permainan ini anak diajak main seolah - olah anak diajak untuk membantu bunda mencuci piring atau yang lain. Untuk ini bunda perlu menyiapkan 2 bak berisi air (air tidak usah diberi pewarna), satu bak diisi air sabun, satunya air bersih tanpa sabun; piring atau gelas plastik, sabun . Sebelum mulai bermain, anak diajak melihat peralatan  ynag disediakan, amati respon anak. Kemudian mulailah anak diajak bermain, dengan bunda terlebih dahulu memberi tahu atau memberi contoh urutan permaianannya. Apabila anak belum mau  melakukan permaianan maka bunda dapat memberi motivasi dengan ucapan: " Bunda akan mencuci piring kotor, mana Fahrun piring-piring kotornya kita masukkan ke air sabun, lalu  kita gosok supaya bersih, dan dibilas dengan air bersih, lihatlah sekarang sudah bersih". apabila anak mengikuti gerakan bunda, berilah penguatan, dan jika anak sudah menyelesaikan satu piring, bunda dapat merangsang anak untuk melakukannya lagi.
Permainan ini bisa diganti dengan obyek permainan, bisa saja diganti baju, dsb.

4. Bermain Bentuklah Aku.

Permainan kali ini adalah bermain untuk membuat aneka bentuk  dengan bahan clay atau malam (bahan ini bisa dibeli dari toko mainan anak atau bisa dibuat sendiri). Anak diajak bunda untuk melihat perlengkapan permainan , misal dengan perkataan: " Faroz , lihat ibu punya permaian menarik buat kamu", lihat dan amati respon anak", lanjutkan dengan pekataan: " bahan ini bisa diremas , digiling, dipiln-pilin atau ditepuk-tepuk hingga dapat dibuat bermacam-macam bentuk". Lihatlah respon anak, jika anak sudah memperlihatkan memegang , meremas dan lain lain, berilah penguatan terhadap anak, misal : " Faros, ibu lihat kamu sudah memegang dan meremas clay, bagaimana rasanya?", dan lanjutkan dengan pertanyaan lainnya. Dan bila anak sudah mahir dam membentuk clay maka beilah motivasi untuk mencoba bentuk lain, dan mencoba mneggabungkan bentuk yang ada, misal dengan: " Oh, dua kotak  tadi bisa ditempelkan ya?"  dan dapat dirangsang lagi dengan pertanyaan: " Bentuk apalagi yang bisa Faros buat ?' atau dengan perkataan lainnya.

5. Potonglah Aku.

Untuk permainan ini , bunda perlu menyiapkan koran bekas, majalah bekas, kalender bekas atau lainnya, dan gunting khusus untuk anak. Ajaklah anak untuk melihat alat permainannya. kemudian berilah contoh bagaimana permainan ini dilakukan. Lihat dan amati respon anak. Bila anak belum tertarik maka bunda dapat memotivasi anak dengan ucapan: " Nadia...lihatlat mama dapat membuat koran ini menjadi potongan kecil-kecil banyak sekali", dan berilah contoh bagaimana cara memegang gunting dan melakukan proses menggunting. Bila anak sudah merespon dan melakukannya, berilah penghargaan dan respon positif. Dalam permainan ini yang perlu diperhatikan adalah orang tua harus mendampingi dan memberi kepercayaan kepada anak kalau anak pasti bisa (karena kadang kala ada bunda yang justru takut bila anak mulai memegang gunting).

Bunda terkasih, permainan di atas adalah beberapa contoh permainan, tentu saja bunda dapat menambah variasi permainannya . Selamat mencoba.

Selamat malam,
Salam hangat abadi.....